-->

Cerpen : New York Aku Kembali

Langit kota New York masih sama, menawarkan keteduhan di hati Maryam. Ada keharuan menyeruak begitu ia injakkan kaki menuruni tangga pesawat yang menerbangkannya dari Dubai. Seakan tidak ingin melewati momen itu, dia hirup dalam-dalam udara kota New York hingga memenuhi rongga dadanya. New York serupa candu baru bagi dirinya.
Cerita islam yang menyentuh, Cerpen : New York Aku Kembali
Setelah menyewa sebuah apartemen sederhana, Maryam datang memenuhi panggilan lembaga yang menerimanya. Dia akan ditempatkan di sebuah International Primary School, pendidikan tingkat dasar bagi anak-anak usia 6 hingga 7 tahun.
Di sela-sela hari libur, Maryam seringkali memanfaatkannya dengan berkeliling kota, mengingat kembali kenangan masa lalunya yang masih tersimpan rapi di pikirannnya. Maryam teringat David dan berniat untuk mengunjungi gerejanya.

Sebuah taksi mengantarkannya ke tempat itu. Semua masih terlihat sama seperti beberapa tahun lalu. Maryam mengintip dari balik jendela taksi sebelum akhirnya memutuskan untuk turun. Dia menghela nafas, berusaha menepis gemuruh di hatinya. Matanya memicing begitu melihat seekor anjing menyalak-nyalak, menatapnya dari kejauhan. Dengan mantap, Maryam langkahkan kakinya menuju bangunan itu. Langkahnya terhenti saat melihat sosok pria paruh baya tengah menyirami deretan tanaman yang menghiasi pelataran bangunan tua itu.

Pria itu sesaat tertegun melihat Maryam, menyiratkan keterkejutan.

”Maryam...?” pria itu menghampirinya.

”Bapa...” Maryam sedikit kikuk.

”Kau kembali, Anakku!” Ujarnya.

”Come get in. Follow me, Maryam! (Masuklah. Ikuti aku, Maryam!)” Sambungnya lagi sembari menjajari langkah Maryam.

Maryam mengikutinya dengan hati bertanya-tanya. Jantungnya berdegup kencang, darahnya berdesir, dia sedang berada di rumah David berdua bersama Ayahnya, Pastur Rushel Stuart.

”Duduklah, Maryam,” ucap ayah David mempersilakan begitu Maryam masuk.

”How are you, Father? (Apa kabarmu, Bapa?)” tanya Maryam membuka percakapan.

”I thought I would never see you again, My Dear (Aku pikir aku tidak akan pernah bisa bertemu denganmu lagi, Sayang). Melihatmu ada di sini seakan mengobati rinduku pada David.” Pria itu mulai berkaca-kaca.

”David? Why? What happen with him? Where is he, anyway? (David? Kenapa? Ada apa dengannya? Di mana dia?)” Maryam memberondongnya dengan pertanyaan.

”He’s gone. He left me. (Dia telah pergi. Dia meninggalkan aku.)”

”Gone? What are you trying to say, Father? (Pergi? Apa maksudmu, Bapa?)” tanya Maryam sedikit panik.
”Dia pulang ke rumah orang tuanya. It’s been five years (Sudah lima tahun lamanya),” jawab ayah David parau.

”But how? You’re his only parent, aren’t you? Father, would you mind telling me the truth? What actually happen with David? (Tapi bagaimana bisa? Kau orangtuanya satu-satunya, kan? Bapa, bisa kau ceritakan yang sebenarnya? Apa yang sebenarnya terjadi dengan David?)” Maryam kebingungan.

”Suatu hari datang seorang pria bersama seorang wanita ke gereja ini. Mereka adalah sepasang suami istri yang berniat mencari anaknya yang belasan tahun lalu telah dibuang oleh sang istri. Ya, anak itu adalah David. Wanita itu menceritakan semuanya. Ibunya sengaja membuang David karena tak kuasa menanggung beban telah melahirkan anak di luar pernikahan.” Ayah David menjelaskan.

”Setelah wanita itu menceritakan yang sejujurnya pada pria yang menghamilinya, yang sekarang menjadi suaminya, bahwa dia telah membuang buah hati hasil hubungan terlarang mereka, pria itu meminta untuk mencari keberadaan anaknya. Lalu sampailah mereka ke gereja ini. Mereka membawa David pergi.” Disekanya airmata yang menetes di pipinya.

”Awalnya David tidak bersedia, tapi Bapa yang menyuruhnya untuk tinggal bersama mereka. Sejak saat itu, Bapa tidak pernah melihatnya lagi. David tidak pernah sekalipun berkunjung ke sini. Bapa tahu alamat mereka, tapi kesehatan yang semakin menurun menghalangi langkah Bapa untuk samapi ke sana. How I miss him! (Betapa aku merindukannya!)” Ungkapnya lagi panjang lebar. Ia benar-benar tak kuasa menahan kesedihannya.

Ayah David tiba-tiba beranjak masuk ke dalam. Tak lama kemudian, ia kembali dengan membawa sebuah amplop.

”Bertahun-tahun Bapa tidak berani memasuki kamar David, hingga suatu hari Bapa mencoba memberanikan diri untuk melihat kamarnya, Bapa menemukan surat ini. Read them through, Dear. This is for you. And here is his address. Come and see him. He must be glad seeing you, Dear. (Bacalah, Nak. Ini surat untukmu. Dan ini alamat David. Datang dan temui dia. Dia pasti senang melihatmu.)” Diserahkannya surat berbungkus amplop itu pada Maryam.

Maryam menerimanya dengan tangan bergetar. Amplop surat itu terlihat sedikit usang, menandakan telah cukup lama usia pembuatannya. Pelan dibacanya isi surat itu.

Maryam...

Tahukah kamu? Sejak pertama kali aku melihatmu di gerbang sekolah itu, hatiku langsung luluh, entah mengapa. Aku sama sekali tak percaya kalau kau seorang teroris seperti yang dikatakan oleh teman-temanku di sekolah, padahal aku sungguh ingin mengusirmu dari sekolah sejak aku menerima informasi dari Jardon dan Anggel.


Saat itu aku ingin segera sembuh dari sakitku. Aku ingin segera kembali ke sekolah untuk menemui kepala sekolah agar kau keluar dari sekolahku. Tapi semuanya berubah setelah kutatap matamu yang bening biru itu, setelah kutatap alismu yang begitu hitam dan tebal menyatu indah itu.
Aku mengagumimu...


Siang malam aku tak pernah berhenti berharap untuk bisa bertemu denganmu.
Sejak pertemuan di halte bus itu, saat kau tiba-tiba berhenti, terpaku melihatku dan bicara bahwa kau tak mau berjalan di depan seorang lelaki, lalu aku menuruti kata-katamu dan kutawarkan padamu untuk mau bersepeda denganku – yang akhirnya kau sanggupi – aku benar-benar merasa bahagia saat itu, Maryam. Benar-benar bahagia. Tak pernah aku merasa sebahagia itu dalam hidup.


Perlu kau tahu, Maryam! Aku tak pernah sekalipun merasakan kebahagiaan yang hakiki, meski aku memiliki seorang ayah angkat yang sangat sayang dan perhatian terhadapku. Aku tak lebih dari seorang anak buangan yang tak diinginkan dan tak dipedulikan oleh orang yang melahirkanku.


Aku selalu merindukan mereka, Maryam. Betapa aku ingin bertemu mereka. Seringkali aku berdiri di depan gereja, berharap mereka datang menemuiku lalu membawaku pergi hidup bersama mereka. Tapi sampai hari ini mereka tak pernah datang untuk mencariku.


Maryam, sejak kau ada dan bersedia menjadi kekasihku, - ya, meski aku tak pernah bisa menyentuhmu –, aku sedikit tenang dan melupakan tentang siapa dan seperti apa orang tuaku. Kau membuatku bahagia, Maryam. Kehadiranmu bagai obat kerisaunku dan kesedihanku selama ini.
Dan pada akhirnya semua berubah, Maryam, saat kau menyuruhku untuk tidak menyapamu lagi dan memutuskan hubungan kita.


Aku tersiksa, Maryam. Sangat tersiksa, meski kau masih membuka hatimu untukku dan mengizinkan cinta ini mengalir di hatiku.


Jangan siksa aku, Maryam. Jangan buat aku bersedih lagi setelah penderitaanku yang terlalu memikirkan siapa orang tuaku. Jujur. Tidak bisa menyapamu adalah hal yang paling berat untuk kulakukan.
Dan hari itu, kau memutuskan hubungan cinta kita karena orang tuamu telah memilihkan calon pasangan hidup untukmu. Aku semakin menderita. Karena perbedaan. Karena kita tak sama. Karena aku Nasrani dan kau seorang Muslimah. Sakit sekali rasanya, Maryam. Aku merasa tak sanggup untuk hidup lagi, kau telah membuat jiwaku mati.


Mengapa hidupku tak pernah seperti orang-orang kebanyakan yang bisa merasakan kebahagiaan, menikmati hidup? Mengapa Tuhan tak pernah mengizinkanku untuk sekali saja mencecap kebahagiaan hidup yang kuinginkan? Mengapa aku tidak bisa memilih untuk hidup bersamamu, Maryam?


Aku seperti Laut Merah yang selalu pekat warnanya dan takkan pernah biru seperti lautan di Samudera Hindia.


Aku rindu bersepeda dengamu...
Aku rindu warna putih jilbabmu...

Aku rindu bola matamu dan aku rindu bentuk alismu...
 

Aku ingin seperti remaja-remaja yang menikmati kasih sayang mereka di taman-taman, di bawah menara Eiffel seperti di novel-novel.
Aku ingin berlari-lari di taman saling kejar-mengejar seperti di film-film India, Maryam.
Aku ingin menikmati cinta seperti itu.


Tidakkah kau ingin merasakan hal yang sama, Maryam?
Jangan tinggalkan aku, Maryam.
 

Aku mohon!
Kembalilah padaku...
Aku berjanji tidak akan menyentuhmu, seperti permintaanmu.
Aku akan menjagamu.
 

Aku akan menungguimu sembahyang, seperti saat kita bersepeda bersama dan kau meminta izin padaku untuk berhenti di sebuah bangunan – yang kau sebut Masjid – yang belum aku kenali sebelumnya.
Aku akan membawamu kembali bersepeda mengelilingi kota New York seperti hari itu.
Masih banyak tempat yang indah di negeri ini yang belum kukenalkan padamu.
Tidakkah kau menginginkan itu, Maryam?
 

Aku tahu ini sangat sulit.
Perbedaan ini tak kan bisa disatukan.
Tapi tenanglah...


Aku masih memiliki cara..
Cara agar kita bisa hidup bersama.

Tapi kau harus berjanji setelah cara ini kulakukan dengan setulus hati, kau tak akan pergi lagi, tak akan memutuskan hubungan kita ini.

Bilang pada ayahmu, Maryam..
Bilang pada ayahmu bahwa aku seorang Muslim.
Agar ayahmu takkan menikahkanmu dengan orang lain selain aku.
Karena aku sangat menyayangimu dan tidak akan pernah rela jika kau menjadi milik orang lain.
 

Aku tidak mau menderita lagi, Maryam.
Dengan begitu kita akan bisa bersepeda lagi.
Kita akan bisa menulis di secarik kertas di saat jam pelajaran berlangsung, seperti yang biasa kita lakukan.
Tentu kau masih ingat, bukan?
Kita akan bisa berdiri di atas gedung sekolah sambil memandang kota New York yang indah tanpa air mata dan kesedihan lagi.
 

Aku benci kesedihan ini, Maryam.
Aku ingin membuangnya jauh-jauh ke Samudera Atlantik, tapi aku tak mampu.
Aku ingin kita bahagia.
Aku ingin kita bisa hidup bersama selamnya.
Ya, selamanya!


Tidakkah kau menginginkan hal itu?
Tunggu aku, Maryam!

Aku akan bilang pada ayahmu bahwa aku seorang Muslim.
Hati Maryam benar-benar luruh saat itu setelah membaca surat dari pria yang ia cintai.

Cerpen : New York Aku Kembali